top of page

Emisi Gas Rumah Kaca (GRK): Pengertian, Penyebab, Dampak, dan Cara Mengatasinya

  • Gambar penulis: WasteX
    WasteX
  • 17 Des 2024
  • 6 menit membaca

Diperbarui: 26 Des 2025

Fenomena perubahan iklim global merupakan tantangan terbesar yang dihadapi umat manusia di abad ke-21. Masalah ini berakar pada akumulasi emisi gas rumah kaca yang memerangkap panas di atmosfer bumi, sehingga menyebabkan kenaikan suhu global yang tidak stabil. 


Fenomena ini secara ilmiah disebut sebagai efek rumah kaca, sebuah proses alami yang sebenarnya sangat penting bagi keberlangsungan hidup di planet ini. Tanpa keberadaan gas-gas ini yang menyelimuti planet secara alami, suhu rata-rata permukaan bumi diperkirakan akan turun secara ekstrem hingga mencapai -18 derajat celcius, sebuah kondisi dingin yang tidak akan mampu mendukung kehidupan sebagian besar makhluk hidup. 


Namun, masalah lingkungan muncul ketika terjadi ketidakseimbangan yang dipicu oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas tersebut jauh di atas tingkat normal akibat aktivitas manusia.


emisi gas rumah kaca

Apa Itu Emisi Gas Rumah Kaca?

Emisi gas rumah kaca merujuk pada pelepasan berbagai jenis gas polutan ke atmosfer bumi yang memiliki potensi pemanasan global. Komponen utama yang membentuk gas rumah kaca meliputi karbon dioksida (CO2), metana (CH4), dinitrogen oksida (N2O), serta uap air.


Uap air merupakan kontributor utama terhadap efek rumah kaca dalam siklus hidrologi, di mana jumlah uap air di atmosfer akan terus bertambah seiring dengan kenaikan suhu global, sehingga mempercepat penguapan dari lautan dan sungai. Meskipun uap air melimpah secara alami, fokus perhatian dunia tertuju pada gas-gas seperti karbon dioksida (CO2)  dan metana (CH4) karena konsentrasinya melonjak tajam sejak masa revolusi industri, yang menandai awal penggunaan energi fosil secara masif oleh peradaban manusia.


Mekanisme terjadinya efek rumah kaca bermula ketika energi matahari dalam bentuk radiasi gelombang pendek menembus atmosfer dan mencapai permukaan bumi. Sebagian dari energi ini diserap oleh tanah dan perairan, sementara sebagian lainnya dipantulkan kembali ke angkasa dalam bentuk radiasi inframerah atau panas. 


Gas rumah kaca di atmosfer bumi bertindak seperti dinding kaca pada bangunan pembibitan tanaman, yang membiarkan cahaya matahari masuk tetapi memerangkap panas yang mencoba keluar ke ruang angkasa. Dengan terperangkapnya panas tersebut, suhu atmosfer menjadi lebih hangat. Dalam kondisi yang terkendali, proses ini menjaga stabilitas iklim, namun akumulasi gas polutan yang berlebihan telah membuat mekanisme ini menjadi terlalu kuat, sehingga memicu pemanasan global yang merusak keseimbangan alam.


Jenis Gas Rumah Kaca

Sumber Utama Emisi

Masa Hidup di Atmosfer

Potensi Pemanasan (GWP)

Karbon Dioksida (CO2)

Pembakaran bahan bakar fosil, deforestasi

Ratusan tahun

1

Metana (CH4)

Pertanian, gas alam, limbah organik

12 tahun

28

Dinitrogen Oksida (N2O)

Penggunaan pupuk, industri kimia

121 tahun

265

Gas Fluorokarbon

Industri pendingin, manufaktur

Ribuan tahun

1.000 - 24.000


Penyebab Peningkatan Emisi Gas Rumah Kaca

Penyebab utama dari krisis lingkungan global saat ini dapat ditarik kembali pada periode revolusi industri yang dimulai pada abad ke-18. Sejak masa itu, pola konsumsi energi manusia berubah secara drastis dengan penemuan mesin-mesin yang bergantung pada pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam


Pembakaran bahan bakar fosil ini melepaskan simpanan karbon yang tersimpan selama jutaan tahun di bawah tanah langsung ke udara, yang menyebabkan lonjakan kadar karbon dioksida di atmosfer dari sekitar 281 ppm di era pra-industri menjadi lebih dari 422 ppm pada tahun 2024. Selain proses pembakaran energi, letusan gunung berapi juga menyumbang pelepasan gas karbon secara alami, namun volumenya sangat kecil dan tidak signifikan jika dibandingkan dengan total emisi yang dihasilkan oleh industri dan transportasi modern.


Selain sektor energi, sektor pertanian juga menjadi salah satu pemicu utama kenaikan gas rumah kaca yang berbahaya. Penggunaan pupuk nitrogen anorganik yang berlebihan untuk meningkatkan hasil panen melepaskan gas dinitrogen oksida (N2O) ke atmosfer bumi melalui proses denitrifikasi mikroba di tanah. 



Di sisi lain, pembukaan lahan hutan secara besar-besaran atau deforestasi menghilangkan penyerap karbon alami yang paling efektif. Pohon yang seharusnya menyerap karbon melalui fotosintesis justru ditebang dan dibakar, melepaskan karbon yang tersimpan dalam biomassa mereka ke udara sebagai emisi gas rumah kaca yang besar.


Dampak Emisi Gas Rumah Kaca bagi Bumi

Dampak paling berbahaya dari meningkatnya konsentrasi emisi gas rumah kaca adalah pemanasan global yang memicu perubahan iklim ekstrem di seluruh belahan dunia. Suhu bumi yang terus naik menyebabkan mencairnya lapisan es di kutub dan gletser abadi, yang secara langsung berakibat pada kenaikan permukaan air laut. 


Fenomena ini mengancam keberlangsungan hidup masyarakat pesisir, di mana sebagian besar wilayah dataran rendah menghadapi risiko tenggelam atau terkena banjir rob yang semakin parah. Perubahan pola cuaca juga menjadi dampak nyata, di mana badai destruktif terjadi lebih sering, musim kering menjadi lebih panjang yang menyebabkan kekekeringan, serta intensitas curah hujan yang tidak terprediksi yang memicu banjir bandang di berbagai wilayah.


Peningkatan konsentrasi gas polutan ini juga merusak ekosistem laut melalui proses pengasaman samudra. Lautan menyerap sebagian besar karbon dioksida (CO2) dari atmosfer bumi, yang kemudian bereaksi dengan air membentuk asam karbonat (H2CO3).


Peningkatan kadar asam ini sangat merusak bagi terumbu karang dan organisme laut yang memiliki cangkang kalsium, sehingga mengancam keanekaragaman hayati dan rantai makanan di laut. Di darat, perubahan iklim meningkatkan risiko kesehatan manusia melalui penyebaran penyakit tropis yang lebih luas, polusi udara yang memburuk, serta ancaman kelaparan akibat kegagalan panen yang disebabkan oleh cuaca ekstrem dan serangan hama yang invasif. Sebagian besar spesies tanaman dan hewan di bumi juga terancam punah karena tidak mampu beradaptasi dengan kecepatan perubahan lingkungan yang terjadi saat ini.


Biochar sebagai Solusi dalam Mengatasi Emisi Gas Rumah Kaca

Untuk menguranginya, diperlukan langkah mitigasi yang inovatif dan permanen, salah satunya melalui pemanfaatan teknologi biochar atau arang hayati. Biochar adalah material padat kaya karbon yang dihasilkan melalui proses pirolisis, yaitu pemanasan biomassa limbah pertanian dalam kondisi tanpa oksigen. Melalui teknologi ini, karbon yang diserap oleh tanaman dari atmosfer selama fotosintesis diubah menjadi bentuk karbon aromatik yang sangat stabil dan tahan terhadap dekomposisi biologis. 


Dengan mengaplikasikan biochar ke dalam tanah, karbon tersebut dapat dikunci secara permanen di permukaan bumi selama ratusan hingga ribuan tahun, alih-alih terlepas kembali menjadi karbon dioksida (CO2) melalui pembusukan alami.


Penggunaan biochar di sektor pertanian memberikan solusi ganda bagi masalah lingkungan dan ekonomi. Biochar memiliki struktur pori-pori yang sangat luas yang mampu meningkatkan retensi air dan nutrisi di dalam tanah, sehingga mengurangi ketergantungan petani pada penggunaan pupuk kimia yang mahal dan intensif emisi. 


Penelitian menunjukkan bahwa aplikasi biochar di lahan pertanian dapat menekan emisi dinitrogen oksida (N2O) hingga 54% karena struktur biochar mampu mengikat nitrogen lebih stabil dan mencegahnya terlepas ke udara sebagai gas rumah kaca. 


Selain itu, biochar meningkatkan kesuburan tanah yang terdegradasi, memperbaiki pH tanah, dan mendukung aktivitas mikroba yang menguntungkan, sehingga produktivitas hasil panen dapat meningkat secara signifikan tanpa merusak lingkungan


biochar sebagai solusi mitigasi mengatasi emisi gas rumah kaca
Biochar

Mekanisme Kredit Karbon dan Nilai Ekonomi Karbon di Indonesia

Implementasi biochar kini didukung oleh mekanisme pasar global melalui sistem kredit karbon yang memberikan insentif finansial bagi upaya pengurangan emisi. Kredit karbon adalah sertifikat yang mewakili penghapusan atau pencegahan pelepasan satu ton karbon dioksida ekuivalen dari atmosfer.


Proyek biochar termasuk dalam kategori Biochar Carbon Removal (BCR) yang memiliki nilai ekonomi tinggi karena menawarkan penyimpanan karbon jangka panjang yang terjamin durabilitasnya. Indonesia memiliki potensi besar dalam pasar ini dengan melimpahnya limbah biomassa pertanian yang mencapai jutaan ton per tahun, yang dapat dikonversi menjadi aset ekonomi melalui perdagangan karbon internasional.


Pemerintah Indonesia telah memperkuat kerangka hukum pengendalian emisi gas rumah kaca melalui Peraturan Presiden Nomor 98 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Nilai Ekonomi Karbon (NEK). Regulasi ini mengatur mekanisme perdagangan karbon dalam negeri dan luar negeri melalui Bursa Karbon Indonesia dan Sistem Registri Nasional Pengendalian Perubahan Iklim (SRN PPI).


Setiap unit karbon yang dihasilkan dari proyek mitigasi seperti biochar harus melalui proses verifikasi yang ketat oleh lembaga independen untuk memastikan integritas dan transparansi datanya. Dengan adanya bursa karbon, perusahaan yang sulit menurunkan emisinya dapat membeli kredit karbon dari pengembang proyek biochar, menciptakan aliran dana hijau yang mendukung transisi menuju pertanian rendah karbon dan energi bersih di Indonesia.


WasteX telah mengembangkan mesin pirolisis semi-automatis, memungkinkan petani atau pabrik pengolahan limbah memproduksi biochar secara mandiri di lokasi mereka. Inovasi ini sangat penting karena menggunakan limbah biomassa sebagai bahan bakar sekaligus bahan baku, sehingga menciptakan sistem energi mandiri yang meminimalkan jejak karbon transportasi.


Kesimpulan

Meningkatnya konsentrasi gas polutan di atmosfer bumi sejak era revolusi industri telah membuktikan bahwa ketergantungan pada bahan bakar fosil harus segera diakhiri demi menjaga kestabilan permukaan bumi. Pemanasan global bukan lagi sekadar prediksi masa depan, melainkan kenyataan yang harus dihadapi dengan aksi nyata.


Teknologi biochar muncul sebagai salah satu solusi paling efektif karena kemampuannya dalam melakukan sekuestrasi karbon secara permanen sekaligus memperbaiki kualitas lahan pertanian yang rusak akibat penggunaan pupuk kimia yang berlebihan selama puluhan tahun.


Dengan memanfaatkan potensi limbah organik sebagai emas hitam pengunci karbon, kita tidak hanya berkontribusi dalam menurunkan emisi gas rumah kaca global, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi nasional. Kesadaran untuk beralih ke praktik rendah karbon harus dimulai dari sekarang, di mana setiap ton karbon yang berhasil kita simpan di dalam tanah melalui biochar adalah investasi berharga bagi kesehatan planet dan kesejahteraan generasi mendatang. 

Komentar


bottom of page