top of page

Cara Mengatasi Virus yang Menyerang Tanaman Padi Sehingga Menjadi Kerdil Adalah?

Ketahanan pangan Indonesia sering terancam oleh serangan organisme pengganggu yang menyebabkan pertumbuhan padi terhambat secara abnormal. Faktanya, virus yang menyerang tanaman padi sehingga menjadi kerdil adalah virus tungro, sebuah patogen mematikan yang ditularkan oleh serangga wereng hijau


Jika populasi wereng tidak terkendali, penyakit tungro akan meluas dengan cepat hingga menyebabkan risiko gagal panen total yang merugikan petani secara masif. Sebagai solusi utama, petani disarankan menggunakan varietas tahan untuk mencegah tanaman menjadi kerdil saat virus menyerang tanaman padi. 


Selain penggunaan benih unggul, inovasi penggunaan biochar kini menjadi tren baru sebagai pembenah tanah yang mampu memperkuat imunitas tanaman dari akar. Artikel ini akan mengulas bagaimana integrasi teknologi arang hayati ini dapat menyelamatkan produktivitas sawah Anda dari ancaman stunting secara berkelanjutan.


virus yang menyerang tanaman padi sehingga menjadi kerdil adalah

Etiologi dan Patogenesis: Mengapa Tanaman Padi Menjadi Kerdil?

Akar permasalahan dari kondisi pertumbuhan abnormal ini terletak pada infeksi ganda oleh dua jenis virus yang berbeda namun bekerja secara sinergis. Kedua virus tersebut adalah Rice Tungro Bacilliform Virus (RTBV) dan Rice Tungro Spherical Virus (RTSV)


RTBV, yang memiliki partikel berbentuk batang, merupakan penyebab utama munculnya gejala perubahan warna daun menjadi kuning atau oranye. Namun, virus ini memiliki keterbatasan yakni tidak dapat ditularkan oleh serangga vektor tanpa bantuan protein dari virus kedua. Di sisi lain, RTSV yang berbentuk bulat (sperikal) adalah aktor utama yang menyebabkan tanaman menjadi kerdil secara ekstrem.


Gejala klinis yang ditimbulkan sangat khas dan sering kali disebut oleh petani sebagai "penyakit merah" karena perubahan warna daun yang mencolok. Selain perubahan warna dari hijau menjadi kuning oranye yang dimulai dari ujung daun muda, tanaman akan mengalami pemendekan jarak antar buku atau ruas batang. 


Hal ini mengakibatkan tinggi tanaman jauh di bawah rata-rata tanaman sehat seumurnya. Secara internal, infeksi ini menyebabkan penurunan kadar klorofil dan gangguan keseimbangan hormon pertumbuhan, yang pada akhirnya menghambat proses fotosintesis secara keseluruhan.


Komponen Patogen

Bentuk Partikel

Gejala Dominan

Peran dalam Penularan

RTBV

Bacilliform (Batang)

Warna kuning oranye

Membutuhkan RTSV untuk transmisi

RTSV

Spherical (Bulat)

Kekerdilan (Stunting)

Menyediakan protein pembantu penularan

Kompleks Tungro

Ganda

Kerdil, kuning oranye, anakan berkurang

Efisiensi penularan tinggi oleh wereng hijau


Tanaman yang terinfeksi pada fase awal pertumbuhan, terutama di persemaian hingga umur 90 hari setelah tanam, akan mengalami kerusakan yang paling parah. Pada fase kritis pembentukan anakan, serangan penyakit tungro dapat menyebabkan penyusutan jumlah anakan secara drastis, yang secara langsung mengurangi potensi malai dan hasil gabah per rumpun.


Peran Wereng Hijau sebagai Vektor Utama Penularan

Penyebaran penyakit ini di lahan persawahan tidak terjadi melalui kontak fisik antar tanaman, air, maupun benih, melainkan sepenuhnya bergantung pada kehadiran serangga vektor. 


Spesies wereng hijau, yang secara ilmiah dikenal sebagai Nephotettix virescens, merupakan vektor paling efisien yang menyebarkan virus tungro di Indonesia. Wereng ini memperoleh virus dengan cara menghisap cairan dari jaringan floem tanaman yang sudah terinfeksi, kemudian memindahkannya ke tanaman sehat saat berpindah tempat untuk makan.


Hubungan antara populasi wereng dengan tingkat keparahan penyakit bersifat linear. Semakin padat dan luas populasi wereng hijau di suatu kawasan, maka semakin cepat dan luas pula penyebaran penyakitnya. 


Wereng hijau memiliki siklus hidup yang dimulai dari telur yang diletakkan di pelepah daun, berkembang menjadi nimfa yang mengalami lima kali pergantian kulit (instar), hingga menjadi imago dewasa. Kepadatan populasi serangga ini biasanya mencapai puncaknya pada pertengahan fase pertumbuhan vegetatif tanaman, yaitu sekitar 8 minggu setelah penanaman.


Faktor lingkungan memegang peranan krusial dalam dinamika populasi wereng. Kelembaban udara yang tinggi, terutama pada musim penghujan, serta pola tanam yang tidak serempak menciptakan lingkungan yang sangat ideal bagi perkembangbiakan wereng hijau. 


Selain itu, keberadaan inokulum atau sumber virus di lapangan, seperti tanaman padi yang tersisa dari musim sebelumnya (singgang) atau gulma tertentu, menjadi gudang penyimpanan virus yang siap disebarkan oleh wereng ke pertanaman baru.


Dampak Ekonomi dan Ancaman Ketahanan Pangan Nasional

Serangan virus tungro yang masif memiliki konsekuensi ekonomi yang menghancurkan bagi rumah tangga petani dan stabilitas pangan nasional. 


Di Provinsi Sulawesi Barat, misalnya, tercatat penurunan produksi gabah kering giling (GKG) hingga 9,85% pada tahun 2021, di mana salah satu faktor utamanya adalah kendala organisme pengganggu tumbuhan. 



Kondisi terburuk yang ditakuti petani adalah gagal panen atau puso. Jika infeksi terjadi pada awal masa vegetatif dan tidak segera diantisipasi dengan pemusnahan tanaman sakit (eradikasi), seluruh hamparan sawah dapat berubah menjadi kuning dan kerdil, sehingga tidak menghasilkan malai sama sekali. 


Hal ini memicu efek domino sosial, di mana petani terpaksa mencari pekerjaan sampingan di luar sektor pertanian untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.


Wilayah Analisis

Data Produksi/Insidensi

Dampak yang Teramati

Jawa Tengah (2025)

Target 11,8 Juta Ton Padi

Risiko OPT sebagai tantangan pencapaian target

Sulawesi Barat (2021)

Penurunan ~33,98 ribu ton GKG

Penurunan pendapatan petani secara drastis

Bengkulu (2019)

Deteksi positif di berbagai kecamatan

Riwayat gagal panen akibat "penyakit merah"


Mengingat ambisi pemerintah untuk meningkatkan luas panen dan produksi, seperti proyeksi kenaikan luas panen di Jawa Tengah sebesar 7,46% pada tahun 2025 dibandingkan 2024, manajemen terhadap virus yang menyerang tanaman padi sehingga menjadi kerdil adalah tungro menjadi prioritas yang tidak bisa ditawar lagi.


Strategi Pengendalian: Penggunaan Varietas Tahan

Salah satu pilar utama dalam pengendalian penyakit tungro adalah penggunaan varietas tahan. Komponen ini dianggap paling efektif dan ekonomis karena petani tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk aplikasi pestisida kimia yang berlebihan. 


Varietas yang dilepas oleh pemerintah dikelompokkan menjadi dua: varietas yang tahan terhadap wereng hijau (sebagai pencegahan transmisi) dan varietas yang tahan terhadap virus itu sendiri (sebagai pencegahan gejala kekerdilan).


Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (kini di bawah BSIP) telah merilis sejumlah varietas unggul baru (VUB) yang secara spesifik memiliki ketahanan terhadap berbagai biotipe wereng dan strain virus.


Contoh varietas tersebut meliputi:

  • Inpari 7 Lanrang: Memiliki potensi hasil tinggi (8,7 t/ha) dan dirancang khusus untuk daerah endemis tungro.

  • Inpari 8 dan Inpari 9 Elo: Varietas yang tahan terhadap beberapa isolat virus tungro dengan potensi hasil mencapai 9,9 t/ha.

  • Tukad Unda, Tukad Balian, dan Tukad Petanu: Varietas spesifik lokasi yang sering digunakan di Bali dan NTB untuk memutus siklus serangan.

  • HiPa 3 dan HiPa 4: Pilihan varietas hibrida yang memiliki reaksi moderat terhadap infeksi.


Penting untuk dicatat bahwa penggunaan varietas tahan harus dilakukan dengan strategi pergiliran varietas. Menanam varietas yang sama secara terus-menerus di satu wilayah dapat memicu munculnya biotipe wereng baru yang mampu mematahkan ketahanan varietas tersebut. Oleh karena itu, peta kesesuaian varietas harus diikuti oleh para penyuluh dan petani di lapangan.


Inovasi Biochar: Solusi Pembenah Tanah untuk Imunitas Tanaman

Di tengah tantangan degradasi kesuburan lahan sawah akibat penggunaan pupuk kimia yang tidak terkendali, teknologi biochar hadir sebagai terobosan yang mampu mengatasi masalah dari akarnya. 


Biochar adalah arang aktif yang dihasilkan melalui proses pirolisis biomassa organik, seperti sekam padi atau tongkol jagung, dalam kondisi minim atau tanpa oksigen.


Penggunaan biochar bukan hanya sekadar membuang limbah pertanian, melainkan mengembalikan karbon ke dalam tanah dalam bentuk yang stabil selama ratusan tahun.


virus yang menyerang tanaman padi sehingga menjadi kerdil adalah tungro dan bisa menggunakan biochar untuk mengatasi virus tungro
Biochar

Mekanisme Biochar dalam Menekan Penyakit Tungro

Hubungan antara biochar dan pencegahan penyakit yang menyebabkan tanaman menjadi kerdil dapat dijelaskan melalui beberapa mekanisme ilmiah:


1. Peningkatan Kandungan Silika (Si)

Biochar yang berasal dari sekam padi sangat kaya akan unsur silika. Ketika diaplikasikan ke tanah, Si akan diserap oleh tanaman dan disimpan dalam jaringan epidermis daun dan batang. 


Lapisan silika ini bertindak sebagai perisai fisik yang mengeras, sehingga menyulitkan wereng hijau untuk menusukkan alat mulutnya (stylet) guna menghisap cairan sel. Dengan berkurangnya aktivitas makan wereng, frekuensi penularan virus tungro pun menurun secara signifikan.


2. Perbaikan Fisiologi dan Struktur Akar

Biochar memperbaiki porositas tanah dan retensi air, yang memungkinkan akar tanaman tumbuh lebih dalam dan sehat. Akar yang sehat mampu menyerap nutrisi esensial seperti nitrogen, fosfor, dan kalium secara lebih efisien, sehingga tanaman memiliki energi yang cukup untuk membangun sistem pertahanan internal terhadap serangan virus.


3. Habitat bagi Mikroba Menguntungkan

Struktur berpori pada biochar menyediakan "rumah" bagi mikroorganisme tanah seperti Rhizobia dan fungi mikoriza. Mikroba ini membantu dalam siklus hara dan meningkatkan kesehatan tanah secara keseluruhan, yang secara tidak langsung meningkatkan daya tahan tanaman terhadap cekaman lingkungan dan patogen.


4. Netralisasi pH dan Detoksifikasi

Biochar mampu meningkatkan pH tanah yang masam dan mengikat logam berat atau residu pestisida kimia yang dapat menghambat pertumbuhan. Tanah yang bersih dari toksin memungkinkan tanaman padi tumbuh maksimal dan tidak mudah mengalami stres yang memicu kerentanan terhadap virus tungro.


Aplikasi Praktis di Lahan Sawah

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian biochar sekam padi dengan dosis tertentu (misalnya 10-30 ton/ha) dapat meningkatkan biomassa mikroorganisme tanah dan ketersediaan nitrat. 


Dalam sistem budidaya, biochar dapat dicampurkan ke dalam tanah saat pengolahan lahan atau dikombinasikan dengan pupuk organik berbasis mikroba untuk hasil yang lebih optimal. 


Tanaman yang diberi perlakuan biochar sering kali menunjukkan pertumbuhan yang lebih seragam, tinggi tanaman yang lebih baik, dan jumlah anakan yang lebih banyak dibandingkan tanaman tanpa biochar.


Parameter Tanah/Tanaman

Dampak Pemberian Biochar

Manfaat bagi Pengendalian Tungro

Struktur Tanah

Porositas dan Aerasi Meningkat

Mencegah pembusukan akar dan stres tanaman

Ketersediaan Hara

Retensi Nitrogen dan Kalium Lebih Baik

Tanaman lebih kuat menghadapi infeksi virus

Kandungan Silika (Si)

Konsentrasi Si pada Daun Meningkat

Hambatan fisik bagi serangan wereng hijau

Aktivitas Mikroba

Populasi Bakteri Menguntungkan Naik

Meningkatkan imunitas sistemik tanaman

Rekayasa Ekologi dan Pengendalian Hama Terpadu (PHT)

Selain penggunaan biochar dan varietas tahan, pendekatan rekayasa ekologi (ecological engineering) menjadi komponen penting dalam manajemen hama terpadu


Strategi ini melibatkan manipulasi habitat di sekitar sawah untuk meningkatkan populasi musuh alami wereng hijau, seperti laba-laba, kumbang predator, dan tawon parasitoid. Salah satu caranya adalah dengan menanam tanaman refugia (tumbuhan berbunga seperti marigold atau wijen) di sepanjang pematang sawah yang berfungsi sebagai sumber nektar dan tempat berlindung bagi predator.


Pengendalian secara hayati juga dapat diperkuat dengan penggunaan biopestisida berbahan aktif jamur entomopatogen seperti Beauveria bassiana atau Metarhizium anisopliae. Jamur ini akan menginfeksi tubuh wereng hijau dan mematikan populasi vektor sebelum mereka sempat menularkan virus tungro ke hamparan padi yang lebih luas. 


Integrasi antara kesehatan tanah (via biochar), ketahanan genetik (via varietas tahan), dan keseimbangan ekosistem (via refugia) menciptakan sistem pertahanan berlapis yang sangat tangguh.


Kesimpulan

Berdasarkan seluruh uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa penyakit tungro merupakan ancaman biologis serius yang dapat mengakibatkan penurunan hasil yang signifikan hingga kegagalan panen di Indonesia. 


Virus yang menyerang tanaman padi sehingga menjadi kerdil adalah virus tungro, yang penyebarannya sangat ditentukan oleh dinamika populasi wereng hijau di lapangan. Pengendalian yang efektif tidak bisa hanya mengandalkan satu metode, melainkan harus melalui pendekatan terpadu.


Melalui sinergi antara teknologi pemuliaan tanaman dan inovasi pembenah tanah biochar, kita dapat memastikan bahwa tanaman padi tidak lagi menjadi kerdil akibat tungro, sehingga target produksi pangan nasional dapat tercapai demi kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Ketahanan pangan dimulai dari tanah yang sehat dan pengelolaan hama yang bijaksana.


Komentar


bottom of page