Cara Mencegah Akar Gada pada Tanaman Kubis Secara Alami

Penyakit akar gada (clubroot) merupakan salah satu penyebab gagal panen terbesar pada tanaman kubis, sawi, pakcoy, brokoli, dan tanaman lain dari famili Brassicaceae. Berbeda dengan banyak penyakit tanaman lain, akar gada sulit dikendalikan karena patogennya mampu bertahan di dalam tanah selama bertahun-tahun.
Akibatnya, lahan yang pernah terserang sering mengalami infeksi berulang meskipun sudah memasuki musim tanam berikutnya.
Apa Itu Penyakit Akar Gada dan Mengapa Sulit Dikendalikan

Penyakit akar gada adalah infeksi organ perakaran tanaman yang disebabkan oleh Plasmodiophora brassicae, yaitu protista parasit obligat yang hidup di dalam tanah.
Patogen tular tanah ini aktif di tanah masam (pH < 6,0), menyukai lahan jenuh air, dan sporanya mampu bertahan hidup di dalam tanah hingga 20 tahun sehingga tidak mudah dihilangkan hanya dengan satu kali perlakukan.
Bagaimana Mengenali Gejala Akar Gada?
Infeksi Plasmodiophora brassicae ditandai dengan serangkaian kerusakan morfologi yang khas pada tanaman. Berikut adalah gejala penyakit akar gada yang perlu diwaspadai:
Pembengkakan akar (hipertrofi): Sel-sel akar membelah secara tidak terkendali hingga membentuk benjolan besar mirip gada atau tumor.
Kelayuan daun sementara: Daun tanaman terlihat layu dan lunglai pada siang hari yang terik, namun tampak segar kembali di pagi atau malam hari. Hal ini disebabkan karena ketidakseimbangan laju transpirasi (penguapan) akibat rusaknya jaringan pembuluh akar tanaman.
Kekerdilan ekstrem: Akibat jaringan pengangkut xilem rusak oleh benjolan, tanaman tidak mampu menyerap air dan nutrisi hara, memicu klorosis (daun menguning) dan pertumbuhan kerdil.
Cara Mencegah Akar Gada pada Kubis-kubisan
Pengendalian akar gada dapat dilakukan dengan tiga cara alami berikut ini:
1. Rotasi Tanaman Non-Inang
Untuk memutus siklus hidup patogen dapat dilakukan dengan tidak menanam keluarga kubis-kubisan secara berturut-turut atau melakukan selang–seling lahan dengan komoditas lain seperti jagung, padi, atau kentang.
Hal ini dilakukan karena Plasmodiophora brassicae memerlukan tanaman inang untuk menyelesaikan siklus hidupnya. Tanpa tanaman inang, populasi patogen akan menurun secara bertahap.
2. Solarisasi Tanah Pasca-Panen
Solarisasi tanah pasca panen merupakan metode non-kimiawi untuk mengendalikan penyakit yang ditularkan melalui tanah, serangga, nematoda, dan gulma. Caranya adalah dengan menutup tanah menggunakan plastik bening agar panas matahari terperangkap dan meningkatkan suhu tanah.
Peningkatan suhu ini membantu menekan patogen di dalam tanah. Penelitian menunjukkan bahwa Plasmodiophora brassicae mulai mengalami inaktivasi pada kisaran suhu 42–50°C, dan solarisasi selama 10 minggu mampu menekan perkembangan penyakit.
Solarisasi tanah ini dilakukan dengan beberapa tahapan berikut ini:
Bersihkan seluruh sisa akar dan tanaman yang terinfeksi.
Olah tanah hingga gembur dan ratakan permukaannya.
Siram lahan hingga cukup basah, kemudian tutup dengan menggunakan plastik transparan selama 4-10 minggu agar panas dapat terperangkap di dalam tanah.
Tambahkan kompos setelah plastik dibuka.
Berikan kapur dolomit jika pH masih berada di bawah normal (<6)
Hindari menanam kembali tanaman dari keluarga kubis-kubisan untuk sementara waktu.
3. Perbaiki Kesehatan Tanah Menggunakan Biochar

Rotasi tanaman dan solarisasi membantu menurunkan populasi patogen. Namun, keduanya belum memperbaiki kondisi tanah yang menjadi faktor pendukung berkembangnya penyakit. Biochar digunakan sebagai pembenah tanah untuk memperbaiki kesehatan rhizosfer sehingga lingkungan tanah menjadi kurang sesuai bagi Plasmodiophora brassicae.
Biochar merupakan material kaya karbon hasil pirolisis biomassa. Biochar tidak membunuh Plasmodiophora brassicae secara langsung, tetapi memperbaiki kondisi tanah sehingga kurang mendukung perkembangan patogen.
Biochar membantu mencegah akar gada melalui beberapa mekanisme berikut.
Meningkatkan pH tanah: Plasmodiophora brassicae berkembang optimal pada tanah asam. Biochar membantu meningkatkan pH menuju kisaran yang lebih sesuai untuk pertumbuhan kubis sehingga menekan kondisi yang disukai patogen.
Mendukung perkembangan mikroorganisme menguntungkan: Struktur berpori biochar menyediakan habitat yang mendukung pertumbuhan mikroorganisme tanah yang berpotensi menguntungkan seperti Sphingomonas, Gaiella, Penicillium, dan Olpidium, sekaligus menurunkan Plasmodiophora brassicae penyebab penyakit akar gada. Manfaat ini lebih optimal ketika biochar dikombinasikan dengan kompos atau inokulan mikroba sebelum diaplikasikan.
Mekanisme tersebut sejalan dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa biochar terbukti mampu menekan kejadian penyakit akar gada pada bibit kubis hingga 90%.
Agar manfaat biochar dapat dirasakan secara optimal, berikut rekomendasi dosis biochar berdasarkan uji lapangan WasteX yang dilakukan di berbagai daerah di Indonesia.
Jenis Tanaman | Dosis (ton/ha) |
Padi | 2 |
Jagung | 2.5 |
Sayuran Hijau | 8-10 |
Umbi-umbian | 5 |
Perkebunan | 4 |
Hortikultura | 4 |
Dosis yang tepat perlu diikuti dengan pengaplikasian yang sesuai agar pertumbuhan tanaman optimal. Cara penggunaan biochar dapat berbeda pada setiap komoditas dan kondisi lahan. Pelajari panduan lengkap cara aplikasi biochar di sini.
Kesimpulan
Akar gada sulit dikendalikan karena Plasmodiophora brassicae mampu bertahan di dalam tanah selama bertahun-tahun. Oleh karena itu, pencegahan perlu dilakukan melalui rotasi tanaman non-inang, solarisasi tanah, serta perbaikan kesehatan tanah.
Salah satu cara yang dapat diterapkan adalah penggunaan biochar sebagai pembenah tanah untuk menciptakan kondisi yang kurang mendukung perkembangan patogen. Dengan mengombinasikan ketiga langkah tersebut, risiko serangan akar gada pada kubis dan tanaman Brassicaceae lainnya dapat ditekan secara lebih efektif.





Komentar