top of page

Sapi Terkena PMK? Lakukan 3 Langkah Ini Agar Penularannya Tidak Menyebar ke Sapi Lain

  • Gambar penulis: WasteX
    WasteX
  • 1 jam yang lalu
  • 5 menit membaca
3 cara mencegah penularan wabah PMK pada sapi

Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) merupakan penyakit akibat infeksi virus yang menyerang hewan berkuku belah, termasuk sapi. Penyakit ini menyebar sangat cepat melalui kontak langsung maupun benda yang terkontaminasi, sehingga satu kasus dapat berkembang menjadi wabah apabila tidak segera dikendalikan.


Ketika satu ekor sapi terinfeksi PMK, fokus peternak tidak lagi hanya pada sapi yang sakit, tetapi juga mencegah penularan ke seluruh kandang. Keterlambatan penanganan dapat menyebabkan semakin banyak ternak terinfeksi serta menimbulkan kerugian ekonomi.


Bagaimana Sapi Terkena PMK dan Cara Mengatasinya

Wabah PMK pada sapiĀ di Kapanewon Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul
Wabah PMK pada sapiĀ di Kapanewon Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul

Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) disebabkan oleh Foot-and-Mouth Disease VirusĀ (FMDV) dari genus AphthovirusĀ dan famili Picornaviridae. Virus ini menyerang hewan berkuku belah seperti sapi, kerbau, kambing, dan domba.


Virus PMK dapat menyebar dengan beberapa cara, seperti:

  • Kontak langsungĀ dengan hewan yang terinfeksi atau cairan dari lepuh pada mulut dan kuku.Ā 

  • Kontak tidak langsungĀ melalui peralatan kandang, tempat pakan, tempat minum, kendaraan, pakaian, alas kaki, serta pakan atau air yang terkontaminasi.

  • Partikel udara (aerosol), terutama di wilayah dengan kepadatan ternak yang tinggi.

  • ManusiaĀ yang membawa virus pada pakaian, tangan, atau alas kaki setelah kontak dengan hewan yang terinfeksi.


PMK tidak menular kepada manusia. Namun, manusia dapat menjadi pembawa virus secara mekanis (mechanical carrier) dan menyebarkannya ke peternakan lain melalui pakaian, alas kaki, peralatan, atau kendaraan yang terkontaminasi.


Gejala Umum

Sapi yang terkena PMK umumnnya mengalami gejala berikut:

  • Demam tinggi sekitar 39–41°C.

  • Air liur berlebihan (hipersalivasi).

  • Lepuh atau luka pada lidah, gusi, bibir, hidung, dan celah kuku.

  • Pincang atau kesulitan berjalan.

  • Nafsu makan menurun dan penurunan berat badan.

  • Produksi susu turun drastis pada sapi perah.

  • Tingkat kematian lebih tinggi pada pedet atau ternak muda.


Belum ada obat yang dapat membunuh virus PMK secara spesifik. Penanganan dilakukan untuk mengurangi gejala dan mencegah infeksi bakteri sekunder.


Penanganan Pertama

Apabila menemukan sapi yang diduga terinfeksi PMK, segera lakukan langkah berikut:

  1. Pisahkan sapi yang sakit dari ternak yang sehat.

  2. Hubungi dokter hewan atau petugas kesehatan hewan.

  3. Berikan multivitamin dan terapi untuk mengatasi demam, nyeri dan radang yang dilakukan oleh petugas kesehatan hewan.Ā 

  4. Berikan antibiotik dan antiseptik untuk mengatasi infeksi sekunder serta mempercepat pemulihan..

  5. Lakukan foot dipĀ atau celup kaku pada larutan air yang dicampur 5% tembaga sulfatĀ (CuSOā‚„/Terusi ) untuk membantu mencegah infeksi bakteri dan menjaga kondisi kuku. .


Bagaimana Mencegah Penularan PMK ke Sapi Lainnya

Untuk mengurangi risiko penyebaran PMK di peternakan, lakukan tiga langkah berikut:

  1. Isolasi ternak yang terinfeksi dan terapkan karantina.

  2. Perkuat biosekuriti melalui manajemen kandang.

  3. Lakukan vaksinasi dan pantau kesehatan ternak secara rutin.


1. Isolasi Ternak yang Terinfeksi dan Terapkan Karantina di Peternakan

Isolasi sapiĀ yang terindikasi terpapar PMK pada Kabupaten Probolinggo
Isolasi sapiĀ yang terindikasi terpapar PMK pada Kabupaten Probolinggo

Segera pisahkan sapi yang terinfeksi atau diduga terinfeksi PMK dari ternak yang sehat untuk mengurangi risiko penularan. Karantina juga perlu diterapkan pada peternakan yang pernah berkontak dengan kasus PMK sesuai arahan otoritas kesehatan hewan.


Ternak yang baru datang tidak boleh langsung digabungkan dengan kelompok utama. Tempatkan di kandang karantina setidaknya 14 hariĀ sambil dipantau untuk memastikan tidak muncul gejala PMK.Ā 


2. Perkuat Biosekuriti Melalui Manajemen Kandang

Biosekuriti kandang mengurangi risiko penyebaran PMK melalui lingkungan, peralatan, kendaraan, dan pekerja. Berikut beberapa langkah yang perlu diterapkan:

  • Lakukan foot dip.Ā Setiap orang yang masuk atau keluar kandang perlu melewati foot dipĀ berisi larutan disinfektan untuk mengurangi risiko membawa virus melalui alas kaki. Ganti larutan disinfektan secara berkala agar tetap efektif.

  • Lakukan dekontaminasi dan desinfeksi.Ā Bersihkan dan desinfeksi kandang, peralatan, kendaraan, serta pakaian dan alas kaki pekerja. Dekontaminasi kandang kosong sebelum digunakan kembali, lalu desinfeksi kendaraan yang keluar masuk peternakan. Disinfektan yang direkomendasikan antara lain SporadesĀ dengan dosis 100–200 ml dalam 20 liter airĀ atau FormadesĀ dengan dosis 500–1.000 ml dalam 25 liter air. Gunakan sesuai petunjuk produk dan rekomendasi otoritas kesehatan hewan.

  • Jaga kebersihan lingkungan kandang.Ā Bersihkan sisa pakan dan kotoran agar tidak menjadi tempat berkembangnya lalat dan serangga yang berpotensi menjadi pembawa (vektor) virus antar kandang.

  • Pastikan ventilasi dan pencahayaan memadai.Ā Sirkulasi udara yang baik dan sinar matahari membantu menjaga kandang tetap kering, mengurangi kelembapan, dan membuat sanitasi lebih efektif.


Penerapan biosekuriti juga didukung oleh desain kandang dan pengelolaan lingkungan yang baik.


Layout Kandang yang Mendukung Biosekuriti

Layout kandang yang baik membantu menjaga kebersihan, mempermudah sanitasi, mengurangi risiko penyebaran penyakit antar ternak, dan mengoptimalkan pertumbuhan sapi.

  • Sesuaikan ukuran kandang dengan jenis sapi.Ā Sapi jantan dewasa membutuhkan kandang berukuran 2,5 Ɨ 2 meter, sapi betina 1,8 Ɨ 2 meter, sedangkan anak sapi 1,5 Ɨ 1 meter. Hindari kepadatan kandang untuk mengurangi kontak antar ternak.

  • Gunakan atap setinggi 2–2,5 meter.Ā Ketinggian ini membantu menjaga sirkulasi udara di dalam kandang.

  • Pisahkan area makan, istirahat, dan area gerak.Ā Pemisahan area membantu menjaga kebersihan pakan dan mengurangi kontaminasi.

  • Pastikan ventilasi dan sinar matahari memadai.Ā Sirkulasi udara yang baik dan sinar matahari membantu menjaga kandang tetap kering dan mengurangi kelembapan.

  • Tempatkan pakan dan minum tanpa menghalangi pergerakan sapi.Ā Posisi yang tepat memudahkan akses ternak sekaligus mengurangi pencemaran pakan dan air minum.


Menggunakan Biochar untuk Mendukung Biosekuriti

Biochar mendukung biosekuriti kandang untuk mencegah penyebaran wabah PMK pada sapi lebih optimal
Biochar

BiocharĀ adalah material kaya karbon yang dihasilkan melalui proses pirolisis biomassa dalam kondisi oksigen terbatas. Struktur berporinya membuat biochar mampu menyerap air dan mengikat berbagai senyawa sehingga banyak dimanfaatkan pada sektor pertanian maupun peternakan, termasuk sebagai campuran litter atau alas kandang.

  • Mengurangi kelembapan kandang.Ā Struktur berpori biochar membantu menyerap air dari kotoran, tumpahan air minum, dan kelembapan di dalam kandang sehingga litter tetap lebih kering.

  • Mengurangi emisi amonia.Ā Biochar mengikat gas amonia yang sudah terbentuk di udara melalui proses adsorpsi dan menahan senyawa amonium sehingga mengurangi pelepasan gas amonia di kandang. Sebagai campuran bedding, biochar juga dapat menurunkan emisi amonia hingga 44%, sekaligus mengurangi biaya perawatan kesehatan hewan.Ā 

  • Menstabilkan pH litter.Ā Biochar membantu menstabilkan pH litter sehingga dapat mengurangi pertumbuhan bakteri yang berperan dalam pembentukan amonia.

  • Mendukung biosekuriti kandang.Ā Kandang yang lebih kering, kadar amonia yang lebih rendah, dan kualitas litter yang lebih baik membantu menciptakan lingkungan kandang yang lebih higienis dan mempermudah sanitasi.


Biochar bukan obat dan tidak membunuh virus PMK. Namun, biochar membantu menjaga kandang tetap bersih, kering, dan lebih mudah disanitasi sehingga mendukung penerapan biosekuriti untuk meminimalkan risiko penyebaran PMK.


3. Lakukan Vaksinasi dan Pantau Kesehatan Ternak

Vaksinasi pada sapi untuk mengurangi risiko penyebaran penyakit
Vaksinasi pada sapi untuk mengurangi risiko penyebaran penyakit

Vaksinasi PMK dilakukan untuk mengurangi risiko penyebaran penyakit, terutama di wilayah yang telah ditemukan kasus PMK. Ikuti program vaksinasi dan vaksinasi ulang (booster) sesuai jadwal yang ditetapkan oleh otoritas kesehatan hewan.


Sebagai upaya pencegahan, vaksin PMK dapat diberikan pada sapi berusia 3–6 bulanĀ sebelum ditemukan kasus PMK di wilayah tersebut. Konsultasikan jadwal vaksinasi dengan dokter hewan atau dinas peternakan setempat.


Pantau kondisi ternak dan segera pisahkan sapi yang mengalami demam, air liur berlebihan, lepuh pada mulut atau kaki, pincang, atau penurunan nafsu makan agar tidak menularkan penyakit ke ternak lain.

Jika menemukan gejala yang mengarah pada PMK, segera laporkan kepada dokter hewan atau dinas peternakan setempat.


Kesimpulan

PMK dapat menyebar dengan cepat sehingga penanganan harus dilakukan sedini mungkin. Isolasi ternak yang terinfeksi, penerapan biosekuriti, serta vaksinasi dan pemantauan kesehatan merupakan langkah utama untuk mengurangi risiko penularan.


Salah satu upaya yang dapat mendukung biosekuriti adalah penggunaan biochar untuk membantu menjaga kondisi kandang tetap bersih dan kering. Penerapan langkah-langkah tersebut secara konsisten dapat meminimalkan risiko penyebaran PMK di peternakan.







Ā 
Ā 
Ā 

Komentar


bottom of page